Postingan

Masih Mau 'Kan?

Gambar
Masih Mau 'Kan? "... Memang merupakan kesalahan, jika kita terus saja saling menasehati. Tapi dalam diri, tak ada hasrat untuk berbenah dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari ..." —Salim A Fillah Rapat-rapat ku tutup lembaran Qur'an, dan tengadah sambil ku rebahkan tubuhku. Menutup mata sejenak kemudian mengingat kembali saat melihat gurat lengkungnya nyaris habis tadi malam. Ia akan pergi, dan akan segera pergi. Terbit titah baru, dengan bentuk yang mereka sebut: hilal. Mulanya aku tak begitu antusias dengan gema takbir yang kian memenuhi langit. Dari sudut kampung hingga jalanan di kota-kota. Dari speaker masjid yang riuh dengan suara anak-anak bertakbir ria, hingga mobil-mobil bak terbuka yang siap mengangkut beberapa orang dan bedug untuk disuarakan ditengah-tengah penduduk kota. Aku masih terpaku. Masih tanpa linangan air mata. Rasanya seperti, kau berdiam diatas eskalator dan ialah yang membawamu ke atas atau ke bawah. Tanpa perlu menaikkan kak...

Menempatkan Posisi

Gambar
"Kita harus pandai menempatkan diri." , ucap Teh Al saat kita perjalanan pulang menuju Ciparay. "Maksudnya menempatkan diri gimana Teh?" , tanyaku sambil tak memalingkan wajah dari jalanan sama sekali. "Iya maksudnya kita harus tahu posisi diri kita ada dimana. Terlebih kalau kita lagi jaulah (kunjungan) gini. Kita orang asing kan buat penduduk disana. Bahkan kalau kata temen teteh yang udah wisuda mah, setelah kita wisuda, —WELCOME TO THE JUNGLE! , kita bisa ketawa sehari aja waktu wisuda. Kesananya? Gimana. Kita bakal bener-bener terjun ke masyarakat. Mengamalkan ilmu kita." , jawab Teh Al panjang lebar. Aku masih memutar otak, dan meresapi kalimat tersebut. Selebihnya, aku berpikir, —menempatkan diri atau menyadari posisi. Selama ini, sadar tidak kalau kita tuh seringkali kurang bisa menempatkan diri? Terlebih di bumi ini, di dunia ini. Kita tahu, kita itu hanya 'numpang' hidup di buminya Allah. Kita tahu kita itu punya posisi sebagai H...

Reaksi

Gambar
Apa yang menurut kita 'biasa saja', bisa jadi untuk orang lain adalah hal yang berharga. Seperti yang kemarin aku coba lakukan dengan kawanku, Hanin. Kami mencoba melakukan sesuatu, sebut saja: social experiment. 😁 22 Juni, usai shalat ashar di Masjid beraksen China, Masjid Al-Imtizaj, aku didatangi oleh seorang SPG perempuan (mungkin). Beliau menyodorkan suatu produk biskuit produksi Indonesia. Rupanya memang sedang bagi-bagi biskuit gratis.  SPG itu tidak sendiri, tetapi ditemani oleh rekannya yang sedang meliput kegiatan rekannya memberi sampel biskuit gratis ke masyarakat. Aku diberi satu, dua, dan tiga. Begitupun dengan Hanin. Dan alimat pertama yang keluar dari mulut kita adalah, "Oh iya terima kasih..." Tapi, akankah berbeda dengan yang kami katakan dengan yang orang lain katakan ketika menerima biskuit gratis itu? Aku ingin mengetahui bagaimana reaksi orang lain yang menurutku —mereka yang punya kondisi ekonomi sulit, saat diberi makanan gratis (s...

Ruang Bebas Baca

Gambar
                               Ah, dalam riuh rasa yang tak terindra, aku masih saja menahan jemari. Menahan mata untuk tak lebih dulu awas, menghadang laju waktu yang terus melesat -dengan menoleh pun, malas. Memikirkan bagaimana pada akhirnya setiap anak bahasa dapat dipahami, segala cerita bisa disampaikan dengan ikhlas hati, dan setiap hikmah secara sederhana dapat diilhami. Aku ingin memberi sebuah kabar. Untukmu, jika bertanya, mengapa dan bagaimana, akan ku jawab dengan secarik kisah. Kronologi singkat namun tak pendek kata. Biar tak lagi memendam tanya, atau mencari jejak berbayang. Karena rupanya, matahari di ganesha tak lagi berkesempatan membasuh tubuh lebih lama.                        ...