Postingan

Menampilkan postingan dengan label Celotehan

Aku Masih Gadis Kecilnya Bapak

Gambar
            “Ay, kadieu (Ay, kesini)…” , panggil bapak tiba-tiba ketika aku sedang asyik bermain dengan teman-teman rumahku.               “Aya naon, Pak? Nya, sakedap (Ada apa, Pak? Iya, sebentar).” , jawabku sambil sedikit enggan dan terpaksa meninggalkan teman-temanku. Langkahku lama kelamaan dipercepat, aku tak sabar dengan panggilan bapak tersebab hari itu adalah hari istimewa bagiku, hari peringatan kelahiranku yang ke-7.             “Dieu Ay, calik didieu. (Sini Ay, duduk disini).” , bapak membuka lebar tubuhnya dan membiarkanku duduk diatas pangkuannya.             “Hmm? Aya naon ih Pak, Ayu nuju ameng (Hmm? Ada apa ih Pak, Ayu lagi main)…”             “Baca ieu (Baca ini)…” , bapak mem...

Pendidik yang Terdidik

Gambar
Siapa yang tidak memahami bahwa ditangan perempuanlah, generasi dididik, diasuh, dan dibangun untuk mewujudkan sebuah peradaban yang baik. Pernah berpikir tidak kenapa hal itu bermula dari perempuan? Hanya dari hal kecil, merawat anak sebaik-baiknya di rumah, bisa merambat kepada kualitas generasi keseluruhan. Itu karena, perempuanlah PENDIDIK PERTAMA dan UTAMA semenjak si kecil lahir sampai akhirnya si kecil punya peran besar pada agamanya, negaranya dan masyarakatnya. Jika perempuan 'bodoh', kualitas didikannya kurang, keliru asuhan, jauh dari pemahamannya tentang pola didikan yang benar, yang sesuai dengan ajaran Nabi, bagaimana hendak mendidik si kecil dan menjadikannya bagian dari generasi berkualitas? :') Keadaan terkadang memaksa perempuan untuk menginggalkan perannya sebagai ibu di rumah. Entah itu karena tuntuan ekonomi yang pada akhirnya memaksa sang ibu ikut bekerja. Tidak salah jika bekerja, asal jangan MELALAIKAN tugas utamanya sebagai pendidik anak-anaknya...

Sudah Tidak Sakit Lagi kan, 'Ain?

Gambar
"Aini?" , wanita kisaran usia pertengahan 50-60 itu bertanya ulang. "Iya bu, hehe. Aini aja." , ujar salah seorang dari kami sambil tetap menyunggingkan senyum. "Nanti yang punya nama Aini marah loh mas..." , kata wanita berjas putih itu, sembari menuliskan nama -Aini- diatas buku catatan miliknya. "Hehe, . . . ." Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut kami bertiga. Di sebuah ruangan kecil tersebut hanya ada keheningan sampai pada akhirnya pecah karena 'eongan' kecil dari Aini. "Hey, kucing kecil kami, udah enakan kan?" , hati kecilku berkata demikian. Namun yang tersirat hanyalah ekspresi kelegaan sambil memandangi dan mengelusi kepala mungilnya. "Jadi, ini yang bertanggung jawab atas nama siapa yang Mas, Mbak..?" , dokter hewan lulusan UGM itu kembali bertanya. Kami bertiga saling berpandangan, aku, kak Rifqi dan Shaffa. Saling melempar isyarat untuk siapa yang mau bertanggung jawab. "Kamu aja... en...

Percakapan: Tentang (Sedikit) Kejenuhan

Gambar
"Hey.." , dua ceklis terpampang dilayar beberapa inch itu. Terkirim! Tak lama kemudian, orang disebrang menjawab, "Ay Ayyy... Ada apa Ay?" "Bantu aku menghilangkan kejenuhanku, wkwk" "Hahaha, dasar ya emangnya kamu jenuh kenapa Ay..?" " Banyak yang ingin aku lakukan, tapi waktu begitu sedikit . Baru aja bangun, aktivitas pagi seperti biasa, eh sudah siang lagi. Setelah siang, lalalala, cuma rutinitas, eh udh maghrib lagi. Duh harus kerjain ini dan itu. set...set...set..... eh udah nyaris tengah malem. Duh, ngga kerasa banget waktu itu ya. Selama ini aku cuma melakukan hal yang harus aku lakukan, bukan yang ingin aku lakukan. Eh ya, adakalanya jenuh bukan? jenuh buat ngejalanin ini semua. Bisa jadi karena anggapan bahwa semua ini hanya rutinitas belaka, tak dimaknai, tak dinikmati, atau beragam pernyataan yang terasa sedikit menyudutkan. Padahal, bukannya gak boleh gitu ya? Haa iya, kadang pe...